Dari Ibnu Abbas dan A’isyah
radhiyallahu ‘anhuma menceritakan:
Dulu ada seorang remaja Yahudi yang menjadi pelayan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga, datanglah beberapa orang Yahudi
menemui anak ini. Sampai akhirnya si remaja ini mengambil rontokan rambut
kepala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan potongan sisir rambut, dan
dia berikan ke orang Yahudi. Akhirnya, mereka gunakan rambut ini sebagai bahan
untuk menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pelaku sihir adalah seorang
Yahudi Bani Zuraiq, namanya Labid bin A’sham. Simpul sihir dari rambut tersebut
di tanam di sumur milik Bani Zuraiq, namanya sumur Dzarwan.
Karena pengaruh sihir ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
jatuh sakit, sampai rambut beliau mudah rontok. Beliau seolah-olah melakukan
sesuatu dengan istrinya padahal tidak melakukan apapun. Sampai akhirnya beliau
bermimpi, beliau melihat ada dua malaikat yang datang. Yang satu duduk di dekat
kepala beliau dan yang satu duduk di dekat kaki beliau.
Malaikat pertama bertanya, “Apa yang terjadi dengan orang ini?”
“Dia tersihir.” Jawab Malaikat kedua. “Siapa yang menyihir?” Tanya malaikat
pertama. “Labid bin A’sham orang Yahudi.” Jawab malaikat kedua. “Dengan apa dia
disihir?” Jawabnya: “Dengan rambut dan potongan sisir.” “Di mana simpul
sisirnya?” Jawabnya: “Dibungkus kulit mayang kurma, ditindih batu, di dalam
sumur Dzarwan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun. Kemudian beliau
berangkat ke sumur Dzarwan di Bani Zuraiq bersama Ali bin Abi Thalib, Zubair
bin Awam, dan Ammar bin Yasir.
Ali diperintahkan untuk mengambil batu itu, untuk mengeluarkan
bungkus simpul sihir. Ketika itu, Allah menurunkan dua surat Al-Muawidzatain
(surat Al-Falaq dan An-Nas). Sebelumnya, Ali bin Abi Thalib diperintahkan untuk
membaca dua surat tersebut. Ternyata di dalamnya ada beberapa helai rambut dan
potongan sisirnya. Di sana juga ada ikatan buntalan jumlahnya ganjil. Selanjutnya
benda itu dimusnahkan dan sumurnya ditutup.
Seketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung terasa
ringan dan hilang pengaruh sihirnya. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
kembali, beliau sampaikan kepada istrinya:
يَا عَائِشَةُ، كَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الحِنَّاءِ، أَوْ
كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ
“Hai Aisyah, air sumur itu seperti terkena daun pacar (inai).
Atau seolah pangkal mayang kurma seperti kepala setan.” (HR. Bukhari 5763)
Imam Ibnul Qoyim dalam Zadul Ma’ad mengatakan:
Cara menyembuhkan sakit ini ada dua, di antaranya adalah
mengeluarkan sumber sihir dan menghancurkannya. Ini adalah cara yang paling
sempurna. Sebagaimana terdapat riwayat yang shahih dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bahwa beliau berdoa kepada Allah tentang sumber sihir yang
menimpa beliau, kemudian Allah tunjukkan bahwa pangkalnya ada di dalam sumur,
dengan rambut dan potongan sisir dibungkus mayang kurma jantan.
Ketika benda itu dikeluarkan, pengaruh sihir itu langsung
hilang, seolah beliau baru terbebas dari ikatan. Inilah metode yang paling
ampuh untuk mengobati orang yang terkena sihir. Seperti halnya menghilangkan
sumber penyakit dalam tubuh (Zadul Ma’ad, 4:113)
B. PENCEGAHAN DARI SIHIR
1- Dalam setiap keadaan senantiasa mentauhidkan Allah Azza wa
Jalla dan bertawakkal kepadaNya, serta menjauhi perbuatan syirik dengan segala
bentuknya.
2-
Melaksanakan setiap kewajiban-kewajiban ... Halaman Selanjutnya >>>
